Minggu, 02 Oktober 2016

Raden intan lampung

Bandung , 2 oct 2016 22.50
Hai
apa kau masih berharap kita bisa berteman?
bahkan berkumpul seperti dulu?
Aku tau mungkin ini hanya mimpi besar ku yang selalu ingin bertemu dan meluapkan semua kerinduan dalam hati,
meski diri ini sadar, bahkan setitik pun tiada guna untuk mu, tapi apalah daya pelukan terakhir itu masih menjadi luka yang selalu terkenang dalam masa.
Ini memang bukan soal jarak tapi ini tentang lama nya tak bersua dan menatap satu sama lain dalam suatu ruangan , hingga akhirnya hati ini bingung bagaimana rasa merindu dan di rindu.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Pantaskah

Dari: Pemuda Brengsek
Untuk: Perempuan yang sedang di Pengajian

Tak tahu rasa itu datang dari celah bilik yang mana
Menyelonong senonoh tanpa sapa seolah tak ada siapa siapa
Membasut menjadi partikel kisut yang masuk ke dalam asa
Menjelma kicauan dara yang merangsang ke dalam raga

Tak tahu malu mengapa bisa si brengsek ini mengharapkanmu
Pantaskah sebotol vodka berharap menyatu dengan air wudhu?
Sudikah jika kartu remi bersanding dengan kitab suci?
Akankah raga kotor bau asap menyatu dengan raga suci yang terlindungi hijab?

Tak sadar memang si brengsek ini sebab seteguk miras
Lupa akan sejati dirinya sebagai pemuda yang hina
Raga bertatto dan jiwa najis terbungkus hal bengis
Namun berharap besar padamu wanita yang terjaga dan bebas dari dosa

Kau, perempuan yang sedang di pengajian
Perempuan lugu yang patuh nan tangguh membuat si brengsek ini luluh
Rela ia hapus noda di raganya meski sampai keempat gigi serinya mengigit erat serasa mati
Tak ragu dia membakar angakara yang membelukar dalam nurani

Namun,
Tetap, masa kelam itu membuat peluh tak berarti
Bahkan berdelusi kau tak berjarak lebih dari 1000 senti pun lukai hati
Seperti fatamorgana yang jauh tak mampu ku raih
Bak intan permata dalam bumi yang tak mungkin ku dapati

Engkau,
Perempuan yang terlalu jauh bahkan untuk ku impikan
Senja di ujung pantai yang tak kunjung sampai meski buih lautan ku berai
Mentari yang menyinari pluto yang terbuang dan tak dianggap tertelan masa
Bidadari surga kelak yang membuat penghuni neraka tersenyum haru tak bisa mengelak

Hai, perempuan yang mungkin kini sedang membuka lembaran-lembaran suci
Terima kasih telah membuka mata hati si brengsek ini
Sungguh beruntungnya pria yang mampu dapati engkau nanti
Semoga perlindungan Ilahi selalu menemanimu dalam tiap-tiap hari

Di suatu pagi dekat Masjid Al Haq, Bandung - 2016.

Selasa, 12 Juli 2016

Relung

Sayang ku
Rindu ini menusuk
Hingga tak terpupuk
Sampai hati ini membusuk

Sayang ku
Relung jiwa ini menangis
Raga pun tak mampu menangkis
Akhirnya hati pun terkikis

Sayang ku
Ketika menanti itu menjadi letih
Ketika ramah menjadi marah
Dan ketika tabah itu menjadi lemah 

Ketahuilah bahwa setiap hembusan nafas ini ada nama mu yang terucap dari sang sujud yang tenang

*dirimu
*ANwi

Rabu, 22 Juni 2016

Kamu 2

Kamu
Pancaran sinar dari tatasurya
Kalimat indah dari suku kata
Juga istana mewah dari  sudut desa
Dalam relung hati menyaut
Tapi terasa bak tak berpaut
Gelora dalam jiwa yang menyatu
Tapi rasa tak pernah bersatu
Apa ini soal jarak
Mungkin bukan
Apa ini soal rentan
Mungkin juga bukan
Lalu apa
Mungkin rasa yang resah
Mungkin basa yang lelah
Juga raga yang terpisah

Selasa, 14 Juni 2016

Usia

flores 14-6-2016
@ sekarang usia mu bertambah
aku ingat sebenarnya
dari semenjak senja yang menyapa
aku tau sebenarnya
dari semenjak subuh yang menyuluh

tapi
tau ku tak berarti untuk mu
lisan ku tak bermakna bagi mu
dan daya ku tak ber upaya menurut mu

ketika sang subuh yang terus berganti
dengan iringan sang doa yang tak pernah berhenti
dengan hela nafas yang entah kapan akan terganti
dan dengan DIRIMU yang sangat berarti

aku hanya bisa berjanji pada sang waktu suatu saat waktu waktu kita yang hilang bisa terganti .

sari asmiatien
palembang kayu agung
14-6-2016
14-6-1996

Senin, 30 Mei 2016

Mulai

RAHASIA KEBAHAGIAAN SEORANG MUSLIM

جالس العلماء بعقلك
Duduklah bersama ulama dengan akalmu

وجالس الامراء بعلمك
Duduklah bersama pemimpin dengan ilmumu

وجالس الاصدقاء بأدبك
Duduklah bersama teman dengan etikamu

وجالس أهل بيتك بعطفك
Duduklah bersama keluarga dengan kelembutanmu

وجالس السفهاء بحلمك
Duduklah bersama orang bodoh dengan kemurahan hatimu

وكن جليس ربك بذكرك
Jadilah teman Allah dengan mengingat-Nya

وكن جليس نفسك بنصحك
Dan jadilah teman bagi diri anda sendiri dengan nasihatmu

لا تَحزنْ على طيبتك؛ فَإن لَم يُوجَد في الارض مَن يقدرها؛ ففي السَماء مَن يباركهَا...
Tidak usah bersedih jika di dunia tidak ada yang menghargai kebaikanmu, karena di langit ada yang mengapresiasinya

حياتنا كالورود فيها من الجمال ما يسعدنا وفيها من الشوك ما يؤلمنا.
Kehidupan kita ibarat mawar, disamping memiliki keindahan yang bikin kita bahagia, juga memiliki duri yang bikin kita tersakiti

ما كان لك سيأتيك رغم ضعفك.!!
Apa yg ditetapkan bagimu niscaya akan mendatangimu, meskipun kamu tidak ada daya

وما ليس لك لن تناله بقوتك.!!
Sebaliknya apa yang bukan milikmu, kamu tidak akan mampu meraihnya dengan kekuatanmu

لا أحد يمتاز بصفة الكمال سوى اللہ. لذا كف عن نبش عيوب الآخرين.
Tidak seorangpun yang memiliki sifat sempurna selain Allah, oleh karena itu berhentilah dari menggali aib orang lain.

الوعي في العقول وليس في الأعمار، فالأعمار مجرد عداد لأيامك، أما العقول فهي حصاد فهمك وقناعاتك في حياتك..
Kesadaran itu pada akal, bukan pada usia, umur hanyalah bilangan harimu, sedangkan akal adalah hasil pemahaman dan kerelaanmu terhadap kehidupanmu

كن لطيفاً بتحدثك مع الآخرين، فالكل يعاني من وجع الحياة وأنت ﻻتعلم.
Berlemahlembutlah ketika bicara dengan orang lain, karena setiap orang merasakan derita hidupnya masing-masing, sedangkan kamu tidak mengetahuinya

كل شيء ينقص إذا قسمته على اثنين إلا "السعادة" فإنها تزيد إذا تقاسمتها مع الآخرين.

Semua hal akan berkurang jika dibagi bagi, kecuali "KEBAHAGIAAN",  justru akan bertambah jika kamu bagi kepada yang lain

Senin, 23 Mei 2016

saya bingung dengan keadaan dunia yang semakin absurd atau yang amburadul seperti saat ini , kenapa kok sekarang perkembangan zaman semakin pesat dan sangat cepat ? apa ada yang salah dengan waktu atau memang sekarang penghuni dunia semakin pintar? kenapa kita sebagai manusia yang di ciptakan dengan sempurna diantara makhluk yang lain nya malah termakan dengan kinerja nya sendiri , atauuu karna kita bangga dengan ciptaan manusia yang sangat canggih ? hemm jangan lupa kecanggihan itu akan lenyap dengan sekejap hanya dengan kehendak NYA ,jangan lupa semua itu tidak akan dibawa di kehidupan kekal disana, kita boleh bahagia dunia tapi jangan lupa kita fikirkan bagaimana kita bahagia di dunia sana . kebanyakan kita saat ini memikirkan bagaimana bisa hidup dengan baik sampe-sampe kita lupa mikirin gimana mati yang baik.

Jumat, 13 Mei 2016

Subhanallah

Setan Membantu Pemuda ke Mesjid

Seorang pemuda bangun awal pagi untuk shalat subuh di Masjid. Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid. Di tengah jalan menuju masjid, pemuda tersebut jatuh dan pakaiannya kotor.

Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali ke rumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu lagi dan berjalan menuju masjid .

Dalam perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama! Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah. Di rumah, dia sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan menuju masjid , dia bertemu seorang lelaki yang memegang lampu.

Dia menanyakan identitas lelaki tersebut. Lelaki itu menjawab, “Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda..’

Pemuda tersebut mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid .

Ketika sampai di masjid, si pemuda bertanya kepada lelaki yang membawa lampu, mengapa tidak masuk dan shalat subuh bersamanya?” Lelaki itu menolak. Pemuda itu mengajak lagi hingga berkali kali dan jawabannya tetap sama.

Pemuda bertanya, “Kenapa menolak untuk masuk masjid dan ikut shalat?” .

Lelaki itu menjawab, “Karena aku adalah Iblis.”

Pemuda itu terkejut mendengar jawaban lelaki itu. .

Syaitan kemudian menjelaskan: Saya melihat kamu berjalan ke masjid dan sayalah yang membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah untuk membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah memaafkan semua dosa dosamu.

Saya membuatmu jatuh kali kedua, dan itupun tidak membuatmu berubah pikiran untuk tinggal di rumah, kamu tetap memutuskan kembali masjid. .

Karena itu, Allah memaafkan dosa-dosa seluruh anggota keluargamu.

Saya kuaatir, jika saya membuat kamu jatuh untuk kali ketiga, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa seluruh penduduk kampungmu. Jadi, saya mesti memastikan bahwa kamu sampai di masjid dengan selamat.

Moral kisah ini:

Jangan biarkan Syaitan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya. Jangan melepaskan sebuah niat baik yang hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tahu ganjaran yang akan kamu dapat dari segala kesulitan yang kamu temui dalam usahamu untuk melaksanakan niat baik tersebut.

Jangan menyerah pada usaha ke-100 meskipun masih gagal. Siapa tahu keberhasilanmu berada pada usaha ke-101. Silahkan share cerita singkat ini kepada semua temanmu.

Rentan

Ini bukan soal jarak
Bukan pula soal retak
Ini tentang rasa
Rasa yang kadang datang dan menghilang ,
Tapi kini tapak senja yang mengubah rasa menjadi selalu hadir dan tak akan tergulir
Terimakasih tuhan , teman dan  laman

Rabu, 11 Mei 2016

Pahit

Hambar
Hambar rasa dalam jiwa
Hambar rasa dalam lara
Hambar rasa dalam binasa

Lisan yang hambar dalam berkata
Semeraut bumi yang hancur dengan kata
Satu kata yang meleburkan hati dalam kehidupan
Hancur sudah semua yang hambar tanpa rasa.
Itu JIWA

Senin, 09 Mei 2016

Entah


Jarak dan rindu
Dulu pernah menguatkan aku ,
Sekarang mereka mengalahkan aku
Sebab ketiadaanmu

Minggu, 08 Mei 2016

Rahasia di balik secret

Dianggap Bawa Sial, Angka 13 Justru Rahasia Menuju Surga

Di berbagai belahan dunia tumbuh dan berkembang kepercayaan, mitos, dan legenda yang secara turun temurun dipercayai dan mendarah daging. Meski sudah hidup pada tatanan masyarakat modern, kepercayaan tahayul ini tetap eksis bahkan berkembang dan merasuk ke dalam banyak segi kehidupan masyarakatnya. Seperti mitos angka 13 yang dianggap sebagai angka pembawa sial dan masih dipercayai hingga saat ini.

Seperti negara China yang tidak memiliki lantai ke-13 pada setiap gedung yang dibangun. Alasannya, angka ini tidak membawa hoki dan justru membawa bencana. Di Barat, angka 13 juga dianggap angka sial dan membawa keburukan. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya yang memiliki kepercayaan serupa. Namun tidak demikian dengan Agama Islam yang menganggap 13 tidak ubahnya seperti angka-angka lainnya. Justru angka ini menjadi jalan untuk menuju surga. Bagaimana bisa?

Allah SWT memilih angka 13 sebagai jumlah rukun dalam salat. Ibadah ini merupakan tiang agama yang menjadi pondasi dasar kokohnya agama Islam. Kekohoan tersebut dibangun berdasarkan 13 rukun yang dijalankan untuk mencapai pondasi yang kuat. Lantas, masih pantas kah umat islam percaya dengan mitos dan tahayul yang berkembang terhadap angka ini. Berikut ini 13 rukun salat yang menjadi rahasia menuju surga.

1. Niat
2. Takbiiratul-ihraam,
3. Membaca Al-Fatihah
4. Ruku’
5. I’tidal atau Berdiri tegak setelah ruku’
6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
7. Duduk di antara dua sujud
8. Thuma’ninah dalam semua amalan shalat
9. Tertib urutan untuk tiap rukun yang dikerjakan
10. Tasyahhud Akhir
11. Duduk Tasyahhud Akhir
12. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
13. Dua Kali Salam

Sikap umat islam terhadap tahayul keramat angka 13
1. Semua angka adalah sama, Allah SWT tidak melebih-lebihkan dan juga tidak mengurang-ngurangi setiap hikmah dalam angka-angka tersebut. Terlebih membuatnya sebagai angka sial untuk umat manusia. Karena sejatinya yang dari Allah SWT itu adalah baik, sedangkan yang buruk datangnya dari manusia. Seperti firman Allah SWT dalam surah Yunus: 107

“Jika Allah menimpakan kepadamu kemudaratan maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan bila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang dapat menolak keutamaan-Nya.” (Yunus: 107)

2. Jangan percaya bahwa angka 13 membawa sial. Yang demikian itu disebabkan kebodohan dan kedunguan akal mereka mengait-ngaitkan peristiwa kesialan yang mereka alami dengan angka-angka.

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial dengan sesuatu), tidak ada kesialan dengan keberadaan burung hantu dan tidak ada pula kesialan bulan Shafar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Doktrin 13 sebagai angka sial bisa saja menjadi upaya untuk menciptakan sugesti negatif yang melemahkan keimanan kita. Seburuk-buruknya kaum ialah yang mengikuti paham tertentu sementara tidak sebenar mendalaminya secara bijaksana.

4. Angka 13 merupakan angka baik karena menjadi jumlah rukun salat agama Islam. Dimana setiap rukun-rukun yang dikerjakan, bisa menjadi pembuka pintu surga.

Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah keimanan kita, serta membebaskan belenggu terhadap doktrin tentang angka 13 yang tidak berdasar selama ini. Sehingga kita menjadi kaum yang cerdas dengan selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan hadist. Terimakasih sudah membaca.

Sabtu, 07 Mei 2016

Wajar

Wajar bila ku rindu
Wajar bila ku rindu
Waajar bila ku rindu

Tak apa ..
Hanya sekedar rindu asing
yang terlupakan
Yang entah dimana

Aku lupa mungkin
Lupa apa itu luka
Lupa apa itu derita
Lupa apa itu cerita

Aku hanya ingin berjalan diantara bayang semu yang membawaku terbang jauh dari mu

Jumat, 06 Mei 2016

Retorika penguasa

Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun

Oleh: Wiji Thukul

panas campur debu

terbawa angin ke mana-mana

koran hari ini memberitakan

kedungombo menyusut kekeringan

korban pembangunan dam

muncul kembali ke permukaan

tanah-tanah bengkah

pohon-pohon besar malang-melintang

makam-makam bangkit dari ingatan

mereka yang dulu diam

kali ini

cerita itu siapa akan membantah

dasar waduk ini dulu dusun rumah-rumah

waktu juga yang menyingkap

retorika penguasa

walau senjata ditodongkan kepadamu

walau sepatu di atas kepalamu

di atas kepalaku

di atas kepala kita

ceritakanlah ini kepada siapa pun

sebab cerita ini belum tamat

solo, 30 agustus 91

Patuh

Seorang ibu menyuruh anaknya yang baru berusia 7 tahun, naik bis jurusan Surabaya-Denpasar. Ibu tersebut berpesan kepada pak supir bus.

"Pak, titip anak saya ya? Nanti kalau sampai di Banyuwangi, tolong kasih tau anak saya." kata sang ibu.

Sepanjang perjalanan, si anak ini cerewet sekali. Sebentar-sebentar bertanya pada penumpang,

"Sudah sampai Banyuwangi belum?" tanya si anak tersebut kepada para penumpang.

Hari mulai malam dan anak itu masih terus bertanya-tanya dan salah satu penumpang menanggapi anak tersebut.

"Belum, nanti kalau sudah sampai dibangunin deh! Tidur aja!" kata salah satu penumpang bus.

Tapi si anak tidak mau diam, dia maju ke depan dan bertanya pada supir untuk kesekian kalinya.

"Pak, sudah sampai Banyuwangi belum?"

Pak Supir yang sudah lelah dengan pertanyaan itu menjawab," Belum! Tidur aja deh! Nanti kalo sampai Banyuwangi pasti dibangunin!"

Kali ini, si anak tidak bertanya lagi, ia tertidur pulas sekali. Karena suara si anak tidak terdengar lagi, semua orang di dalam bis lupa pada si anak, sehingga ketika melewati Banyuwangi, tidak ada yang membangunkannya.

Bahkan sampai menyeberangi selat Bali dan sudah mendarat di Gilimanuk, Bali, si anak tertidur dan tidak bangun-bangun. Kemudian si supir baru sadar bahwa ia lupa membangunkan si anak.

Lalu ia bertanya pada para penumpang,

"Bapak-ibu, gimana nih, kita antar balik gak anak ini?"

Para penumpang pun merasa bersalah karena ikut melupakan si anak dan setuju mengantar si anak kembali ke Banyuwangi.

Maka kembalilah rombongan bis itu menyeberangi Selat Bali dan mengantar si anak ke Banyuwangi. Sesampai di Banyuwangi, si anak dibangunkan.

"Nak! Sudah sampai Banyuwangi! Ayo bangun!" kata si supir.

Si anak bangun dan berkata," O.... sudah sampai yah !" Lalu membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makanannya. Seluruh penumpang bingung.

"Bukannya kamu mau turun di Banyuwangi?" tanya si supir kebingungan.

"Nggak kok, saya ini mau ke Denpasar ngunjungin nenek. kata mama, kalau sudah sampai Banyuwangi, saya boleh makan nasi kotaknya!"

Penumpang dan sopir : @&$:):&&?-(-$-&-(-$&/)/):/$'/-@

Buram

Selamat pagi detak
Nestapa hati yang merindu
Rindu yang membatu
Bak darah yang berlalu
Larut dalam emosi yang terpaku

AKU...
Senja yang menunggu waktu
Sorak yang menanti fajar
Tiba yang tiada henti mencari

Step of step

.: LANGKAH BIJAKSANA DI MASA PENUH FITNAH :.

(Syarh Kitab Al-Fitan Wa Asyratis Sa'ah dari Shahih Imam Muslim; kaset no: 24.
Disampaikan oleh Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily -hafizhahullah-)

1. Hindarkan mengikuti perasaan dan ikat kuat dengan tuntunan SYARIAT ISLAM.

2. KROSCEK setiap berita sebelum dinukil dan JANGAN tergesa-gesa MENYEBARLUASKANNYA.

3. Waspadalah dari kebodohan serta BERSEMANGATLAH menuntut ilmu syar'i.

4. Pada saat menghadapi perbedaan, ambillah bimbingan ahli ilmu YANG LEBIH SENIOR (keilmuan maupun usianya).

5. Tinggalkanlah perkara baru (yang dibuat2 dalam agama). KONSISTENLAH di atas pelita Sunnah Nabi.

6. JAUHKANLAH diri dari fitnah, jangan mendekat dengannya.

7. Sadarilah bahwa MENCEGAH terjadinya fitnah lebih mudah daripada menghilangkannya.

8. HINDARI HAWA NAFSU saat mencari petunjuk fatwa. Ambillah fatwa yang bersandar di atas dalil.

9. Bilamana engkau termasuk AWAM, maka JANGAN mengambil fatwa hanya sesuai selera hawa nafsu. IKUTILAH yang lebih berilmu.

10. Janganlah engkau berpaling dari jalan lurus. KONSISTENLAH di atas agama dengan cahaya Al-Qur-an dan As-Sunnah.

11. JANGANLAH engkau MENGGUGAT dalil sekehendakmu. Jadikanlah keinginanmu selaras dengan dalil.

12. Hindari PERPECAHAN dan bersatulah dalam kesatuan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

13. Berhati-hatilah dari sikap zhalim, keji dan kejam. Teguhkan diri di atas KEADILAN, KEBAIKAN dan para pengusungnya.

14. JANGAN engkau MENCARI FITNAH dan berlindung dirilah dari keburukan fitnah.

15. Jangan tertipu dengan "KEINDAHAN" fitnah. Cermatilah hakekatnya dengan nurani suci cahaya ilmu seorang mukmin.

16. HINDARI sikap berlebihan dan komitmen di atas keadilan.

17. Jauhkan diri dari kejahatan dan TUNAIKANLAH setiap hak.

18. BERPIKIR PANJANG dan ketahuilah kebenaran dengan prinsip dan dasarnya.

Diposting oleh: Facebook Masjid Imam Ahmad bin Hanbal Bogor

LARA BERANAH DUKA

Tidak ada kata untuk hari ini
Tidak ada ucapan untuk esok hari
Hari demi hari laksana kebangkrutan dalam benak
Kini setiap hari bak medan perang yang berlumuran darah.
Serapah tertulis darah
Hati beranah darah
Hai kau ?!
Kau tau kenapa aku?
Kau tau? Mengapa aku ?
Linang mencaci hati
Liur membentak rasa.

Ya aku membenci mu.

Selasa, 05 April 2016

Dia

CADAR
ya barusan saja aku membacanya tentang itu mulia memang ,
semoga apa yang kau kenakan selaras
dengan apa yang kau niatkan pacuan nya itu
bak kusir yang sedang menuggangi kuda peperangan , kuat, berani , dan setia .
berkhidmatlah saudariku semoga kau selalu senantiasa ada dijalan NYA

JANGAN REMEHKAN RAPATNYA SHAFF DALAM SHALAT JAMA'AH.

JANGAN REMEHKAN RAPATNYA SHAFF DALAM SHALAT JAMA'AH. Oleh : Ahmad Hasanuddin Umar Ada sebagian orang ngenynye atau terkesan bersikap merendahkan kepada orang yang berusaha untuk merapatkan shaffnya dalam shalat jama'ah, dengan menempelkan kaki dan bahunya. Tidak tanggung-tanggung ada pula tokoh yang menganggap remeh pentingnya kerapatan shaff dalam shalat berjama'ah ini, sehingga ketika dikatakan kepadanya bahwa Nabi SAW bersabda ; "sesungguhnya aku melihat setan masuk kedalam celah-celah shaff, tak ubahnya bagaikan anak kambing yang masih kecil". Lalu dengan tanpa segan dia menyampaikan pernyataan yang bunyinya kira-kira demikian ; "biarin aja setan masuk, kan bagus dia ikut shalat jama'ah bareng sama kita… " Ditambah lagi, ada orang membuat tulisan, yang inti dari tulisannya menolak pentingnya kerapatan shaff dalam shalat jama'ah, sehingga menjadikan orang-orang yang enggan menegakkan sunnah dalam shalat jama'ah semakin tertutup hatinya untuk diajak merapatkan shaffnya. Bahkan ada sebagian diantara mereka bersikap tidak dewasa, ketika saudaranya berusaha menempelkan kakinya dengan kaki dia, kemudian dia menendang kaki saudaranya yang berusaha menempelkan kakinya tersebut… Tulisan pada link dibawah ini layak untuk dibaca dengan seksama, karena didalamnya dikemukan dalil-dalil yang menjelaskan pentingnya kerapatan shaff dalam shalat jama'ah, dan juga penjelasan tentang apa yang dimaksud rapat, serta bantahan atas sebagian orang yang mengatakan bahwa shaff sudah dikatakan rapat minimal jarak satu makmum dengan makmum disampingnya sekitar satu jengkal. Penjelasan tentang standar rapatnya shaff dalam shalat jama'ah ini menjadi sangat penting, karena rapatnya shaff adalah salah satu syarat dari tegaknya shaff, disamping syarat lainnya yaitu lurus.

Mbah Dimin

TULISAN DARI AL USTADZ Nasrulloh Zarkasyi 2 April pukul 9:33 MBAH DIMIN, SANG PAK POS GONTOR Jauh sebelum jasa pengiriman (barang dan uang) berkembang seperti sekarang, andalan utama pondok dalam hal itu adalah Kantor Pos milik pemerintah. Kala itu, Kantor Pos terdekat, yang membawahi beberapa kecamatan di daerah selatan Ponorogo adalah Kantor Pos Jetis. Sebutan untuk Kepala Kepala Kantor Pos pun masih mengikut zaman Belanda, yaitu Pak Komis, kepanjangan dari Komisaris. Hingga dekade 1980-an, Pondok Modern Darussalam Gontor mengutus seorang pegawai, untuk mengantar dan mengambil kiriman surat, paket, maupun uang dari dan ke Kantor Pos Jetis. Adalah Pak Sodimin (orang Desa Gontor akrab memanggilnya Mbah Dimin), seorang bapak tua, alumnus Tarbiyatul Athfal (TA), Sekolah Gontor Lama, yang menjadi Tukang Pos. Setiap hari, sekitar pukul 09.00 WIB, beliau berangkat ke Jetis menggunakan sepeda, sambil membawa surat-surat dari para santri untuk orang tua atau kerabatnya. Tiga jam kemudian, dengan beban yang cukup sarat, Mbah Dimin datang kembali di pondok. Barang bawaannya amat beragam, ada paket berupa lauk-pauk, koran, majalah, surat-surat, serta uang kiriman dari orang tua santri. Jumlah bawaan itu tidak mesti, tergantung tanggal bulannya. Yang jelas, pada masa pembayaran SPP dan uang makan, kiriman uang akan berjibun, hingga dalam hitungan juta. Bagi seorang tukan pos dengan hanya mengendarai sepeda, jelas, hal itu sangat tidak aman. Berpuluh tahun Mbah Dimin melaksanakan tugas mulia itu. Sehari saja Mbah Dimin tidak masuk, puluhan kiriman santri batal terambil dari Kantor Pos Jetis. Pernah, suatu ketika, karena banyaknya kiriman yang harus diambil ke Jetis, beliau pulang sore hari menjelang Maghrib. Tiba-tiba, ada orang jahat ingin mencederai dan mengambil barang bawaannya, termasuk uang para santri itu. Tapi, dengan lugunya, tanpa sepengetahuan penjahat, beliau membuang segebok uang kiriman berjumlah ratusan ribu rupiah ke tengah sawah. Sehingga, ketika penjahat itu menggeledah, tidak menemukan uang. Penjahat pun kabur dengan tangah hampa, tanpa hasil. Setelah penjahat berlalu, dan keadaan kembali aman, Mbah Dimin mencari kembali uang yang dibuang ke tengah sawah tadi. “Alhamdulillah, ketemu,” kisahnya suatu ketika, sambil tersenyum memperlihatkan gigi palsunya. Masih banyak suka duka lain yang dilalui Mbah Dimin selama berkhidmah menjadi Tukang Pos, hingga beliau “pensiun” ketika usianya mulai renta, dan mobil Pos Keliling dari Ponorogo pun menggantikannya. Mbah Dimin adalah orang Gontor asli, tepatnya dari Desa Gontor Selatan. Beliau adalah tamatan TA, seangkatan dengan Mbah Setu Oluk, tukang kayu pondok, tetangganya, yang telah wafat puluhan tahun silam. Sudah sewajarnya jika kemudian ia mengabdi di pondok, sebagaimana kader-kader pondok saat ini, dan memilih tukang pos sebagai bidang pengabdiannya. Namun, ketika itu, tidak banyak pemuda desa yang mau sekolah TA. Kalau pun sekolah TA, mereka tidak mesti mau mengabdi di pondok. Dalam hal ini, Mbah Dimin, dan beberapa orang lagi seusianya, termasuk istimewa, tetap mengabdi di pondok hingga akhir hayat. Tiga orang anaknya, serta beberapa orang cucunya, sempat mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, bahkan hingga kini, salah satunya, H. Edy Kusnanto (Kusno, wafat tahun lalu), puluhan tahun mengajar di KMI PM Darusalam Gontor. Bagi para pendiri pondok, Mbah Dimin bukan hanya pegawai, melainkan juga kawan dan anshar bagi pondok. “….laksana Sahabat di zaman Rasulullah,” begitu K.H. Imam Zarkasyi pernah mencandra orang seperti Mbah Dimin. Sebaliknya, Mbah Dimin membalasnya dengan sikap tawaddu‘ kepada Trimurti, yang diwujudkan dengan keikhlasan dan kesungguhannya berkhidmah di bidangnya, Tukang Pos pondok, tanpa dibayar. Sebuah hubungan harmonis dan sikap yang harus diteladani generasi penerus. Kedekatan hubungan batin Mbah Dimin dengan Pak Zar tak diragukan lagi. Suatu kali, dalam kesempatan menghadap, Mbah Dimin ditanya oleh Pak Zar tentang kenangannya masa TA dulu. “Min, kowe yo isih kelingan karo bocah Kaponan kae?” (‘Min, kamu masih ingat sama anak Kaponanitu?’). Sambil tersipu malu, Mbah Dimin menjawab, “Taksih.” (‘Masih’) Pak Zar pun ketawa lepas mengenang masa itu. Perlu dijelaskan, anak yang dimaksud Pak Zar adalah seorang gadis dari desa tetangga yang pernah diincar oleh Mbah Dimin untuk dijadikan isteri, namun batal. Ketika itu, Mbah Dimin acapkali berebut dengan temannya untuk mengantarkan gadis tersebut pulang ke desanya, Kaponan, setiap usai sekolah TA. Rupanya, masa itu ada juga kisah kasih di sekolah. Beberapa tahun silam, Mbah Dimin wafat dalam usia yang sangat sepuh, sekitar 80-an tahun. Di tahun-tahun terakhir usianya, kami masih sering melihat beliau menunaikan shalat Jum‘at. Hingga, suatu ketika, beliau tak terlihat lagi, dan kabar pun merebak, Mbah Dimin wafat. Patut disyukuri, cucu-cucu beliau dari putra almarhum Ust. Edy Kusnanto menjadi kader pondok. Semoga mereka menjadi kader penerus keikhlasan kakeknya.

Senin, 04 April 2016

Rasa

ketika kita yakin akan apa yang kita fikirkan tentang kemustahilan , ingat segala sesuatu yang ada di muka bumi ini bukan lah milik kita, melainkan semua hanyalah titipan.
ketika didatangkan nya masalah yang besar dan merubuhkan tubuh mu ingatlah bahwa ada yang lebih besar dari segala nya di muka bumi ini.
kita haru bergerak dari kediaman , agar dapat posisi yang aman kelak

semesta terjaga dengan hati
jika hati mati , semesta akan hancur