Selasa, 05 April 2016
Mbah Dimin
TULISAN DARI AL USTADZ
Nasrulloh Zarkasyi
2 April pukul 9:33
MBAH DIMIN, SANG PAK POS GONTOR
Jauh sebelum jasa pengiriman (barang dan uang) berkembang seperti sekarang, andalan utama pondok dalam hal itu adalah Kantor Pos milik pemerintah. Kala itu, Kantor Pos terdekat, yang membawahi beberapa kecamatan di daerah selatan Ponorogo adalah Kantor Pos Jetis. Sebutan untuk Kepala Kepala Kantor Pos pun masih mengikut zaman Belanda, yaitu Pak Komis, kepanjangan dari Komisaris. Hingga dekade 1980-an, Pondok Modern Darussalam Gontor mengutus seorang pegawai, untuk mengantar dan mengambil kiriman surat, paket, maupun uang dari dan ke Kantor Pos Jetis.
Adalah Pak Sodimin (orang Desa Gontor akrab memanggilnya Mbah Dimin), seorang bapak tua, alumnus Tarbiyatul Athfal (TA), Sekolah Gontor Lama, yang menjadi Tukang Pos. Setiap hari, sekitar pukul 09.00 WIB, beliau berangkat ke Jetis menggunakan sepeda, sambil membawa surat-surat dari para santri untuk orang tua atau kerabatnya. Tiga jam kemudian, dengan beban yang cukup sarat, Mbah Dimin datang kembali di pondok. Barang bawaannya amat beragam, ada paket berupa lauk-pauk, koran, majalah, surat-surat, serta uang kiriman dari orang tua santri. Jumlah bawaan itu tidak mesti, tergantung tanggal bulannya. Yang jelas, pada masa pembayaran SPP dan uang makan, kiriman uang akan berjibun, hingga dalam hitungan juta. Bagi seorang tukan pos dengan hanya mengendarai sepeda, jelas, hal itu sangat tidak aman. Berpuluh tahun Mbah Dimin melaksanakan tugas mulia itu. Sehari saja Mbah Dimin tidak masuk, puluhan kiriman santri batal terambil dari Kantor Pos Jetis.
Pernah, suatu ketika, karena banyaknya kiriman yang harus diambil ke Jetis, beliau pulang sore hari menjelang Maghrib. Tiba-tiba, ada orang jahat ingin mencederai dan mengambil barang bawaannya, termasuk uang para santri itu. Tapi, dengan lugunya, tanpa sepengetahuan penjahat, beliau membuang segebok uang kiriman berjumlah ratusan ribu rupiah ke tengah sawah. Sehingga, ketika penjahat itu menggeledah, tidak menemukan uang. Penjahat pun kabur dengan tangah hampa, tanpa hasil. Setelah penjahat berlalu, dan keadaan kembali aman, Mbah Dimin mencari kembali uang yang dibuang ke tengah sawah tadi. “Alhamdulillah, ketemu,” kisahnya suatu ketika, sambil tersenyum memperlihatkan gigi palsunya. Masih banyak suka duka lain yang dilalui Mbah Dimin selama berkhidmah menjadi Tukang Pos, hingga beliau “pensiun” ketika usianya mulai renta, dan mobil Pos Keliling dari Ponorogo pun menggantikannya.
Mbah Dimin adalah orang Gontor asli, tepatnya dari Desa Gontor Selatan. Beliau adalah tamatan TA, seangkatan dengan Mbah Setu Oluk, tukang kayu pondok, tetangganya, yang telah wafat puluhan tahun silam. Sudah sewajarnya jika kemudian ia mengabdi di pondok, sebagaimana kader-kader pondok saat ini, dan memilih tukang pos sebagai bidang pengabdiannya. Namun, ketika itu, tidak banyak pemuda desa yang mau sekolah TA. Kalau pun sekolah TA, mereka tidak mesti mau mengabdi di pondok. Dalam hal ini, Mbah Dimin, dan beberapa orang lagi seusianya, termasuk istimewa, tetap mengabdi di pondok hingga akhir hayat. Tiga orang anaknya, serta beberapa orang cucunya, sempat mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, bahkan hingga kini, salah satunya, H. Edy Kusnanto (Kusno, wafat tahun lalu), puluhan tahun mengajar di KMI PM Darusalam Gontor.
Bagi para pendiri pondok, Mbah Dimin bukan hanya pegawai, melainkan juga kawan dan anshar bagi pondok. “….laksana Sahabat di zaman Rasulullah,” begitu K.H. Imam Zarkasyi pernah mencandra orang seperti Mbah Dimin. Sebaliknya, Mbah Dimin membalasnya dengan sikap tawaddu‘ kepada Trimurti, yang diwujudkan dengan keikhlasan dan kesungguhannya berkhidmah di bidangnya, Tukang Pos pondok, tanpa dibayar. Sebuah hubungan harmonis dan sikap yang harus diteladani generasi penerus.
Kedekatan hubungan batin Mbah Dimin dengan Pak Zar tak diragukan lagi. Suatu kali, dalam kesempatan menghadap, Mbah Dimin ditanya oleh Pak Zar tentang kenangannya masa TA dulu. “Min, kowe yo isih kelingan karo bocah Kaponan kae?” (‘Min, kamu masih ingat sama anak Kaponanitu?’).
Sambil tersipu malu, Mbah Dimin menjawab, “Taksih.” (‘Masih’)
Pak Zar pun ketawa lepas mengenang masa itu.
Perlu dijelaskan, anak yang dimaksud Pak Zar adalah seorang gadis dari desa tetangga yang pernah diincar oleh Mbah Dimin untuk dijadikan isteri, namun batal. Ketika itu, Mbah Dimin acapkali berebut dengan temannya untuk mengantarkan gadis tersebut pulang ke desanya, Kaponan, setiap usai sekolah TA. Rupanya, masa itu ada juga kisah kasih di sekolah.
Beberapa tahun silam, Mbah Dimin wafat dalam usia yang sangat sepuh, sekitar 80-an tahun. Di tahun-tahun terakhir usianya, kami masih sering melihat beliau menunaikan shalat Jum‘at. Hingga, suatu ketika, beliau tak terlihat lagi, dan kabar pun merebak, Mbah Dimin wafat. Patut disyukuri, cucu-cucu beliau dari putra almarhum Ust. Edy Kusnanto menjadi kader pondok. Semoga mereka menjadi kader penerus keikhlasan kakeknya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar